Pramuka, Islam, dan Palestina

Kontingen Pondok Pesantren Modern Al-Ishlah dalam kegiatan World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) 2025.

Usai sudah gegap gempita World Muslim Scout Jamboree 2025 yang diadakan dalam rangka Peringatan 100 tahun berdirinya Pondok Pesantren Modern Darussalam, Gontor. Namun, jejaknya masih terus diputar, dan dinikmati oleh banyak orang. Setidaknya, demikian oleh penulis yang bukan pendamping (peserta dari Pondok Pesantren Al-Ishlah) apalagi pasti bukan peserta, sekadar menikmati dan menonton keseruan yang berseliweran di media sosial. Apalagi bagi peserta, rasa-rasanya mereka belum move on dari kegiatan spektakuler ini, atau bahasa anak mudah gamon -gagal move on.

Pramuka memang lahir di barat, dan tidak ada embel-embel muslimnya. Namun, bagi kami yang di pondok pesantren memiliki slogan, We are Scout, but We are Muslim. Kami pramuka, tapi kami muslim.

Bagi seorang Muslim, menjadi apapun itu, maka tidak boleh meninggalkan identitasnya. Begitu juga menjadi pramuka, maka tidak boleh meninggalkan kemuslimannya. Maka, menjadilah pramuka muslim.

Pramuka muslim itu harus beradab, menjaga ukhuwah, penebar dan penyeru perdamaian. Kalau kata Ustadz Henri Shalahuddin, “Bagi seorang Muslim, Pramuka itu kalau tidak bawa agamanya, maka yang dinomorsatukan adalah daerahnya, negaranya, sukunya, rasnya, bahasanya, dll.”

Maka, saya sepakat, jika Jambore tidak ada embel-embel muslimnya, para peserta yang anak-anak remaja -pemuda- itu bisa jadi akan melakukan kegiatan yang tidak islami -melakukan maksiat dengan segala jenisnya. Itulah mengapa, penting sekali menjelaskan identitas pramuka Muslim dan Jamboree Muslim.

Alhamdulillah, Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor sukses menyelenggarakan Jamboree Pramuka Muslim Dunia 2025 yang diikuti oleh 15.333 peserta dari 16 negara. Sebuah pengalaman berharga bagi para peserta, bertemu dan berinteraksi peserta tidak hanya lokal, tetapi bahkan global. Kegiatan penuh edukasi diselenggarakan dengan mengundang banyak pesohor. Mulai dari menteri, gubernur, artis, penyanyi, hingga ilmuwan dan penulis. Dari Nasaruddin Umar, Abdul Mu’ti, Iwan Fals, Fatin, Wali Band, hingga penulis yang alumnus Gontor, A. Fuadi dihadirkan untuk mengedukasi dan menghibur para peserta.

Sekali lagi, karena identitas Islam melekat. Maka, ukhuwah islamiyah dirajut, menembus batas sekat negara. Akhirnya, puncak Jamboree Pramuka Muslim Dunia 2025 kemarin benar-benar sebagai pesan damai dari Indonesia. Yaitu menyeru perdamaian dan ukhuwah, serta menyatakan dukungan pada Palestina.

Sungguh, menurut penulis hal ini adalah gema yang sangat indah dan berani. Karena, kita sama-sama tahu, Palestina adalah negara yang sampai saat ini, masih terjajah. Belasan ribu suara doa dan dukungan tulus dari peserta Jamboree semua diijabah Allah Ta’ala.

Itulah harapan dari K.H. Hasan Abdullah Sahal, yaitu agar menjadi ramah hatinya, ramah pikiran, ramah perkataan dan perbuatannya, dalam penutupan World Muslim Scout Jamboree 2025. Semoga kita semua menjadi seperti harapan beliau. Aamiin.

So, siapa nih yang gamon?

Editor: Qonita Husna Zahida

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More Information

Advertising