
Oleh: Muhammad Khoirul Anam, S.H.
(Alumnus Pondok Pesantren Al-Ishlah 2005, Sekretaris PC Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Kec. Kunir, Kab. Lumajang)
Nama Mohammad Natsir tak terpisahkan dari lembaran sejarah pemikiran Islam dan kebangsaan Indonesia. Beliau bukan sekadar politisi atau Perdana Menteri, melainkan seorang pemikir, pendidik, dan da’i ulung yang mendedikasikan hidupnya untuk menyalakan obor dakwah. Lahir di Alahan Panjang, Sumatera Barat pada tahun 1908, Natsir tumbuh dalam tradisi keislaman yang kuat sekaligus terbuka terhadap modernitas. Dari pergulatan hidup dan zaman, beliau merumuskan gagasan fundamental: Islam bukanlah sekadar agama ritual, melainkan sebuah sistem nilai utuh yang menjadi fondasi moral, sosial, dan politik dalam membangun bangsa.
Salah satu puncak pemikiran Natsir adalah pandangannya tentang relasi Islam dan negara. Baginya, Islam dan gagasan kebangsaan tidak pernah bertentangan; justru, Islam menyediakan landasan etik dan spiritual untuk mewujudkan negara yang adil dan sejahtera. Dalam pidatonya di Sidang Konstituante tahun 1957, Natsir menegaskan, “Islam bukanlah agama yang hanya mengurus sembahyang dan ibadah mahdhah, melainkan agama yang lengkap, yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya.” Pandangan ini menyoroti bahwa Islam dan politik harus berjalan seiring, saling melengkapi demi keadilan dan kesejahteraan.
Di samping perdebatan konstitusional, Natsir juga mencurahkan perhatian besar pada pendidikan dan dakwah. Beliau produktif menulis, menghasilkan lebih dari 45 buku dan ratusan artikel sejak tahun 1929. Bagi Natsir, tulisan adalah medium dakwah yang kuat. Beliau yakin bahwa pena lebih tajam dari pedang, mampu menembus pikiran, menyentuh hati, dan membentuk kesadaran umat. Dalam salah satu pesannya, beliau berkata, “Dakwah tidak boleh berhenti pada ceramah. Ia harus masuk ke sekolah, ke media, ke masyarakat, agar Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi semesta alam.”
Dari keyakinan inilah, pada tahun 1967, Natsir mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Lembaga ini hadir sebagai respons atas kebutuhan umat akan wadah dakwah yang terorganisir, independen, dan berorientasi jangka panjang. Bagi Natsir, jalur politik hanyalah salah satu washilah, sementara dakwah adalah jalan yang abadi. Melalui DDII, beliau ingin memastikan bahwa syiar Islam tidak hanya bergema di kota-kota besar, tetapi juga menjangkau pelosok desa, daerah terpencil, hingga komunitas minoritas Muslim.
Sejak kelahirannya, DDII telah mengimplementasikan berbagai program dakwah konkret, meliputi pengiriman da’i ke pedalaman, pembangunan masjid dan madrasah, penyediaan beasiswa pendidikan Islam, serta penerbitan media dakwah. Semua inisiatif ini berpijak pada satu tekad: kebangkitan umat hanya dapat dicapai melalui pendidikan yang berkualitas, dakwah yang mencerahkan, dan penguatan akidah.
Lebih dari setengah abad kemudian, semangat juang DDII tetap berkobar. DDII kini hadir di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Lumajang. Pergerakannya terus beradaptasi dengan tantangan zaman, mulai dari pengkaderan da’i muda, sertifikasi da’i, hingga pemanfaatan media digital untuk syiar Islam. Warisan pemikiran Natsir senantiasa hidup dalam setiap langkah DDII: dakwah bukan sekadar aktivitas seremonial, melainkan kerja peradaban yang membangun masyarakat dengan ilmu, keikhlasan, dan strategi yang matang.
Pemikiran M. Natsir dan kiprah DDII mengajarkan kepada kita bahwa membangun umat adalah tugas mulia yang menuntut kesabaran, visi, dan konsistensi. Tulisan-tulisan beliau tetap relevan, seolah berbicara kepada kita hari ini, bahwa Islam tidak boleh dipisahkan dari denyut kehidupan bangsa. Dengan semangat ini, kita yang kini berada di bawah panji DDII memiliki kewajiban untuk melanjutkan jejak langkahnya, menjaga kemurnian dakwah, sekaligus menyesuaikannya dengan dinamika zaman.
Dakwah adalah amanah, dan Natsir telah menunjukkan jalannya. Kini, tugas kitalah untuk memastikan obor itu tetap menyala, menerangi jalan umat menuju kejayaan yang diridhai Allah SWT.
Editor: M. R. Ridho